Risalah IKADAB - Tidak sedikit orang yang menjalani hidup dengan dihantui kekhawatiran tentang masa depan. Mereka cemas memikirkan hari esok, pendidikan anak-anak, pekerjaan, kedudukan, hingga kondisi ekonomi keluarga. Demi menghilangkan rasa cemas itu, berbagai cara ditempuh untuk meraih jabatan, pangkat, harta, dan berbagai bentuk keberhasilan duniawi.
Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Setelah jabatan diraih, muncul kekhawatiran akan kehilangannya. Setelah harta terkumpul, timbul rasa takut harta itu berkurang atau lenyap. Setelah memperoleh kedudukan, muncul kecemasan agar posisi itu tetap bertahan. Seolah-olah, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut yang mengiringinya.
Mengapa demikian?
Karena ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu mengingat Sang Pemilik segala sesuatu: Allah SWT, Pencipta alam semesta, yang menggenggam seluruh rezeki, kemuliaan, keamanan, dan masa depan setiap hamba-Nya.
Al-Qur'an mengingatkan:
"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Pemilik) rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut."
(QS. Quraisy: 3–4)
Ayat ini mengajarkan bahwa sumber ketenangan bukanlah semata-mata banyaknya harta, tingginya jabatan, atau kuatnya kedudukan. Semua itu hanyalah sarana. Adapun pemberi rezeki dan pemberi rasa aman yang sesungguhnya adalah Allah SWT.
Karena itu, ikhtiar dalam mencari rezeki dan meraih kesuksesan tetap merupakan bagian dari ajaran Islam. Namun, ikhtiar harus disertai dengan keimanan, tawakal, dan ketundukan kepada Allah. Ketika hati bergantung kepada-Nya, kita akan lebih siap menerima apa yang ditetapkan-Nya, tanpa terus-menerus dihantui rasa takut kehilangan.
Semoga Allah SWT menjadikan hati kita senantiasa tenang dalam mengingat-Nya, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, serta menganugerahkan rasa aman lahir dan batin. Aamiin.

